Jawāmi’ Al-I’rāb wa Hawāmi’ Al-Ādāb: Nazam Syair Jam’ Al-Jawāmi’ dan Ham’ Al-Hawāmi’

Dalam samudra luas khazanah keilmuan bahasa Arab, terkadang kita menemukan permata yang terlupakan, namun bersinar terang ketika disentuh oleh cahaya penelitian. Salah satunya adalah Jawāmi‘ al-I‘rāb wa Hawāmi‘ al-Ādāb, sebuah nazam klasik yang ditulis oleh ‘Umar bin Muḥammad al-Fāriskūrī. Disusun dalam lebih dari enam ribu bait, karya ini bukan sekadar nazam, melainkan sebuah jembatan yang menghubungkan dua karya monumental Imam Jalāluddīn as-Suyūṭī ke dalam bentuk syair yang memudahkan hafalan dan penyebaran ilmu.

Dalam proses studi dan penelitian saya terhadap khazanah ilmu bahasa Arab, saya menemukan permata langka: sebuah nazam karya ‘Umar bin Muḥammad al-Fāriskūrī berjudul “Jawāmi‘ al-I‘rāb wa Hawāmi‘ al-Ādāb”. Kitab ini merupakan hasil penjelmaan dari dua karya agung Imam Jalāluddīn as-Suyūṭī, yaitu “Jam‘ al-Jawāmi‘” dan “Hama‘ al-Hawāmi‘”, ke dalam bentuk syair (nazam) yang padat, hingga 6173 bait.

Melalui penelitian ini, saya semakin yakin bahwa Imam as-Suyūṭī menyusun Jam‘ al-Jawāmi‘ bukan sekadar sebagai kumpulan perbedaan madrasah ilmu nahwu dan saraf dari setiap negeri, tetapi sebagai upaya penyatuan berbagai pandangan kebahasaan yang berserakan. Gaya beliau yang sistematis dan komprehensif membuat karya ini memperkaya kajian gramatika Arab klasik.

Namun yang paling mengesankan bagi saya adalah bagaimana al-Fāriskūrī mengubah karya ilmiah berat ini ke dalam bentuk syair. Di sini saya menyadari bahwa para ulama terdahulu bukan hanya ilmuwan, tetapi juga seniman bahasa. Nazam ini menjadi alat untuk memudahkan hafalan, mempercepat pemahaman, serta membantu penyebaran ilmu kepada pelajar dan santri di berbagai penjuru dunia Islam.

Dalam proses penelitian ini, saya juga mendapati bahwa al-Fāriskūrī secara sadar menyebutkan nama-nama tokoh nahu yang dirujuk oleh al-Imam as-Suyūṭī. Ini membuka ruang penting untuk mengetahui silsilah keilmuan dan bagaimana gagasan-gagasan besar dalam bahasa Arab diwariskan. Tak hanya itu, beliau juga memuat perbedaan antara berbagai mazhab nahu secara adil dan proporsional dalam bait-baitnya — ini menunjukkan sikap ilmiah yang patut diteladani.

Yang tidak kalah menarik, saya menemukan bahwa istisyhād (sumber rujukan) dalam nazam al-Fāriskūrī sangat beragam — dari ayat-ayat Al-Qur’an, hadits-hadits Nabi ﷺ, hingga syair-syair Arab klasik dan ucapan-ucapan fasih dari masyarakat Arab terdahulu. Ini membuktikan keluasan bacaan dan penguasaan beliau terhadap khazanah bahasa Arab.

Salah satu bagian yang saya cermati secara mendalam adalah adanya kemiripan antara bait-bait al-Fāriskūrī dan bait-bait dalam Alfiyyah Ibn Mālik. Misalnya, bait berikut dari al-Fāriskūrī:

وَارْفَعْ بِوَاوٍ وَبِيًا نَصْبٌ وَجَرْ # سَالِمَ جَمْعٍ نَحْوُ عَاقِلٍ ذَكَرْ

sangat mirip dengan bait Ibn Mālik yang berbunyi:

وَارْفَعْ بِوَاوٍ وَبِيَا وَاجْرُرْ وَانْصِبِ# سَالِمَ جَمْعِ عَامِرٍ وَمُذْنِبِ

Kemiripan ini tidak saya anggap sebagai duplikasi semata, melainkan sebagai bentuk penghormatan dan kesinambungan metodologis antara generasi pengampu ilmu nahu. Al-Fāriskūrī seakan berdialog dengan Ibn Mālik melalui bait-bait syairnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *